Jejaktinta.com | Koto Kampar Hulu-
Dunia pendidikan kembali tercoreng. SMP Yayasan Sekolah Anak Karyawan (YAPENDAK) yang berada di lingkungan PT Padasa Enam Utama, Kecamatan Koto Kampar Hulu, kini menjadi sorotan tajam publik. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru berubah menjadi bangunan nyaris tak layak huni, memunculkan dugaan serius adanya penggelembungan dan penyalahgunaan Dana BOS senilai ±Rp 112 juta.
Pantauan langsung di lokasi menyuguhkan pemandangan yang mencemaskan. Atap sekolah tampak rusak parah dan berpotensi roboh, dinding-dinding retak, pintu serta jendela banyak yang tidak berfungsi, sementara halaman sekolah dipenuhi semak belukar. Kondisi ini bukan hanya mencederai wajah pendidikan, tetapi juga mengancam keselamatan siswa dan tenaga pendidik setiap hari.
Baca Juga Ketua KNPI Riau Sorot Kinerja Kades Danau Lancang, Perkara Apa?
Ironisnya, kerusakan tersebut justru semakin parah setelah terjadi pergantian kepemimpinan. Sejak Saidil menjabat sebagai Kepala Sekolah sekitar satu tahun terakhir, kondisi SMP Yapendak disebut kian memburuk, bukan berbenah.
Tak berhenti di bangunan, fasilitas belajar pun jauh dari kata layak. Meja dan kursi siswa banyak yang rusak, sebagian bahkan tak bisa digunakan. Situasi ini membuat proses belajar mengajar terganggu dan semangat belajar siswa terus menurun.
“Kondisi seperti ini sudah lama, tapi tak ada perbaikan. Kami takut sewaktu-waktu bangunan ini membahayakan anak-anak kami,” ungkap salah satu wali murid dengan nada penuh kekhawatiran.
Di tengah kondisi sekolah yang memprihatinkan, para wali murid justru mengaku terus dibebani berbagai pungutan. Dengan jumlah siswa mencapai ±235 orang, sekolah diduga menarik biaya: SPP bulanan Rp 60.000 per siswa, Uang pembangunan Rp 100.000, Buku LKS seharga Rp 150.000 untuk 11 mata pelajaran, yang dijual oleh salah satu guru
Fakta ini memicu amarah orang tua. Mereka menilai sekolah lebih menyerupai ladang bisnis, bukan lembaga pendidikan***(JS / Redaksi)
