KAMPAR,Jejaktinta.com
– Di halaman desa yang sederhana, puluhan warga berkumpul menyambut kedatangan bantuan 20 ekor sapi dari PTPN IV Regional III Distrik Barat. Tampak senyum namun tak semua hati benar-benar tenang.
Bantuan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) itu diserahkan kepada dua desa, Talang Danto dan Kasikan, sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar.
Bagi sebagian warga, ini adalah harapan baru.
“Kalau dikelola baik, ini bisa jadi sumber ekonomi ke depan,” ujar salah satu warga dengan nada optimis.
Namun di balik itu, ada cerita lain yang tak kalah penting – cerita tentang sungai yang berubah, dan kehidupan yang ikut terdampak.
Ketika Sungai Tak Lagi Sama
Maja beberapa waktu terakhir, masyarakat di dua desa tersebut merasakan perubahan pada aliran Sungai Tapung. Air yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini disebut tak lagi seperti dulu.
Warga menduga adanya pencemaran limbah dari aktivitas pabrik kelapa sawit (PKS) di sekitar wilayah mereka.
Perubahan itu drastis dan bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga soal dapur yang harus tetap mengepul.
Suara yang Tak Selalu Terdengar
Di antara kerumunan, para nelayan berdiri dengan perasaan campur aduk. Mereka datang, melihat, tapi menyimpan pertanyaan.
Pak Dedy, salah satu nelayan Desa Kasikan, menyampaikan kegelisahannya dengan sederhana namun mendalam.
“Kami ini hidup dari sungai. Kalau sungai Tapung bermasalah, kami juga ikut susah. Jadi kami bingung, bantuan ini bagaimana bisa membantu kami,” ujarnya Pak Dedy sedikit ngeluh
Kami ada sekitar 30 nelayan, Sungai Tapung bukan sekadar air yang mengalir bagi kami – melainkan sumber penghidupan yang tak tergantikan bagi kami,”tegas Pak Dedy
Pesan dari Desa: Jangan Hanya Datang Saat Ada Masalah
Kepala Desa Talang Danto bersama Kasikan, Al. Hudri, juga menyampaikan harapan yang lebih luas. Ia menginginkan hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dan masyarakat.
“Kami ingin perhatian itu terus ada, bukan hanya saat terjadi masalah. Karena kita ini hidup berdampingan,” katanya.
Menurutnya, bantuan sapi akan dikelola secara bersama oleh desa, dengan harapan bisa menjadi langkah awal pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Antara Bantuan dan Harapan yang Lebih Besar
Bantuan 20 ekor sapi kini telah diterima. Di satu sisi, ia menjadi simbol kepedulian. Di sisi lain, ia juga membuka ruang dialog yang lebih besar tentang kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.
Warga berharap, perhatian tidak berhenti pada bantuan semata, tetapi juga menyentuh akar persoalan —pemulihan lingkungan, menjaga sungai, dan memastikan sumber kehidupan yang tetap berjalan.
Karena bagi mereka, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan untuk hari ini saja, tapi juga jaminan untuk hari esok – hari tua.**(JS / Redaksi)
