Jejaktinta.com, | Kampar,
Di saat banyak pejabat publik memilih “bersembunyi” di balik dinding kantor dan alergi terhadap sorotan kamera, Camat Tapung Hulu, Nuryadi SE, justru menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang terbuka. Hari ini, Kamis (22/1/2026), bertempat di Kantor Camat Tapung Hulu, Nuryadi resmi menerima Plakat Penghargaan dari Pers Keadilan Tapung Hulu sebagai bentuk apresiasi atas transparansi dan sinergitas yang tak lazim ditemukan di birokrasi yang kaku.
Penyerahan penghargaan ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya “tutup pintu” yang selama ini sering dilakukan oknum pejabat saat berhadapan dengan kontrol sosial jurnalis.
Dalam keterangannya, Camat Nuryadi SE melontarkan pernyataan tajam yang menyentil fenomena pejabat yang sering memposisikan diri lebih tinggi dari rakyat dan media.
“Penghargaan ini bukan untuk gagah-gagahan atau sekadar pajangan meja. Ini adalah tamparan bagi siapa saja yang masih merasa risih dengan kehadiran wartawan. Pers adalah mata dan telinga pemerintah. Kalau pejabat antikritik dan takut didatangi pers, itu tandanya ada yang tidak beres dengan kinerjanya,” tegas Nuryadi dengan nada bicara yang lugas.
Lebih jauh, Nuryadi menegaskan bahwa kemajuan Kecamatan Tapung Hulu bukanlah pertunjukan tunggal seorang Camat. Dengan gaya bicara yang tajam, ia mengajak Insan Pers Keadilan untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam memajukan daerah.
“Saya tegaskan, kemajuan Tapung Hulu ini mustahil saya raih jika saya berjalan sendirian. Saya bukan pesulap. Saya butuh Insan Pers Keadilan untuk terlibat aktif, mengawal kebijakan, dan memberikan masukan konstruktif. Pers harus menjadi bagian dari mesin penggerak pembangunan di kecamatan ini,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa selama ini ada jurang pemisah yang sengaja diciptakan oleh ego sektoral antara aparat dan media. “Mari kita kubur budaya lama itu. Saya mengajak rekan-rekan pers untuk ikut ‘berkeringat’ membangun daerah ini melalui karya jurnalistik yang mencerdaskan dan mengawasi jalannya roda pemerintahan,” imbuhnya.
Meski memberikan ruang seluas-luasnya, Nuryadi juga memberikan peringatan keras bagi para jurnalis agar tidak menyalahgunakan kemitraan ini. Ia meminta agar kedekatan emosional tidak lantas membuat pena jurnalis menjadi tumpul.
“Saya terima penghargaan ini dengan tanggung jawab besar. Namun saya ingatkan, jangan karena kita bermitra, fungsi kontrol sosial kalian hilang. Tetaplah jadi watchdog yang kredibel. Beritakan fakta, bukan fitnah. Profesionalisme wartawan adalah harga mati agar kemitraan ini tidak berubah menjadi kongkalikong yang kotor,” tegas Nuryadi.
Ketua Pers Keadilan Tapung Hulu, Pajar Saragih, menyatakan bahwa pemberian penghargaan ini adalah hasil penilaian objektif atas keberanian sang Camat dalam mendobrak sekat komunikasi yang selama ini kaku.
“Camat Nuryadi SE dan Kapolsek Iptu Riko adalah duet maut yang memberikan teladan bagaimana seharusnya pelayan publik bersikap. Mereka tidak alergi dikonfirmasi, justru mereka yang menantang pers untuk ikut membangun daerah. Ini adalah standar baru bagi kepemimpinan di Kabupaten Kampar,” ujar Pajar.
Acara penyerahan plakat berlangsung secara khidmat di ruang kerja Camat, menandai babak baru transparansi publik di Kecamatan Tapung Hulu yang diharapkan menjadi kiblat bagi wilayah lain di Provinsi Riau dalam hal keterbukaan informasi. (Pajar Saragih).
Sumber : Pers Keadilan Tapung Hulu
