Pekanbaru,Jejaktinta.com
– Jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai) tidak hanya menjadi jalur transportasi yang mempercepat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Riau. Ruas tol ini juga dilengkapi fasilitas khusus bagi satwa liar berupa jalur penyeberangan yang memungkinkan gajah melintas dengan aman tanpa bersinggungan dengan kendaraan.
Sabtu (13/6/2026)
Berdasarkan informasi dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum, sejumlah ruas jalan tol di Indonesia telah menerapkan koridor ekologis atau fasilitas penyeberangan satwa untuk menjaga konektivitas habitat yang terpisah akibat pembangunan infrastruktur.
Pembangunan Flyover Padang Lua Rp182 Miliar Dimulai, Jalur Logistik Sumbar-Riau Bakal Lancar
Koridor ekologis merupakan struktur berupa jembatan maupun terowongan, juga dirancang khusus agar satwa liar dapat berpindah dari satu kawasan hutan ke kawasan lainnya dengan aman. Fasilitas ini juga berfungsi mengurangi risiko tabrakan antara kendaraan dan satwa liar yang kerap berujung pada kematian satwa atau road-kill.
Salah satu penerapannya terdapat di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai yang menjadi tol pertama di Indonesia yang dilengkapi underpass khusus satwa liar.
Di ruas tol tersebut tersedia enam Underpass Pelintasan Gajah (UPG) yang dibangun untuk mendukung pergerakan kawanan gajah di habitat alaminya. Fasilitas tersebut berada di Seksi 2 pada KM 12 serta di Seksi 4 yang tersebar pada KM 61, KM 69, KM 71, KM 73, dan KM 74.
Keberadaan jalur ini memungkinkan gajah berpindah antar kawasan hutan tanpa harus melintasi badan jalan tol yang dipadati kendaraan berkecepatan tinggi. Dengan demikian, risiko konflik antara manusia dan satwa liar dapat ditekan.
Tidak hanya di Riau, fasilitas serupa juga tersedia di Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh). Pada ruas Tol Sibanceh Seksi 1 Padang Tidji-Seulimeum, pelintasan satwa dibangun dengan menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing jenis satwa.
Untuk gajah, tersedia jembatan penyeberangan yang berada di KM 13+755 hingga KM 13+871. Sementara itu, jalur khusus reptil dibangun pada KM 10+000 hingga KM 15+100. Adapun pelintasan primata berada di KM 11+000 hingga KM 13+000.
BPJT menjelaskan, pembangunan koridor ekologis menjadi bagian penting dalam upaya menjaga populasi satwa liar yang terus menghadapi tekanan akibat penyusutan habitat dan meningkatnya interaksi dengan aktivitas manusia.
Fasilitas tersebut memastikan satwa tetap memiliki akses menuju sumber pakan, tempat berkembang biak, maupun wilayah jelajah lainnya tanpa harus melewati jalur kendaraan yang berisiko tinggi.
Selain mendukung aspek keselamatan satwa, keberadaan koridor ekologis juga memberikan manfaat bagi pengguna jalan tol karena mengurangi potensi kecelakaan akibat kemunculan satwa liar di badan jalan.
Dampak bagi Konservasi dan Infrastruktur
Pembangunan jalur penyeberangan satwa di Tol Permai dan Tol Sibanceh menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi lingkungan. Kehadiran fasilitas ini membantu menjaga konektivitas ekosistem sekaligus meminimalkan dampak pembangunan terhadap habitat satwa liar.
Bagi masyarakat, keberadaan koridor ekologis menjadi bukti bahwa proyek infrastruktur modern tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi dan mobilitas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta perlindungan keanekaragaman hayati.
Ke depan, konsep serupa berpotensi diterapkan pada proyek infrastruktur lainnya yang melintasi kawasan habitat satwa liar guna mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (JS / Redaksi)
